Konflik Iran-Israel, Pertamina Siapkan Strategi Antisipasi Dampak Geopolitik  

Read Time:2 Minute, 2 Second

petbrowser.us, JAKARTA – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Eric Thohir mewanti-wanti BUMN untuk mengantisipasi dampak krisis ekonomi dan geopolitik global. Pertamina terus memantau perkembangan terkini konflik Iran-Israel.

Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati mengatakan Pertamina terus menjajaki tren baru dan dampak geopolitik yang memanas terhadap rantai energi global. Niki mengatakan, pertukaran minyak dunia akan semakin intens seiring meningkatnya konflik di Timur Tengah.

“Kami akan terus meningkatkan upaya pengurangan risiko untuk mengurangi dampak situasi ekonomi dan geopolitik, termasuk pengendalian harga, pemilihan komposisi minyak mentah terbaik, manajemen inventaris yang efektif, peningkatan produksi produk berkinerja tinggi secara menyeluruh,” kata Niki.

Sebelumnya, Eric meminta seluruh BUMN memprediksi dampak perang Iran-Israel. Eric mengatakan, situasi ini memperkuat dolar terhadap rupiah dan tentu saja menaikkan harga minyak WTI dan minyak Brent yang mencapai US$85,7 dan US$90,5 per barel.

“Beberapa ekonom memperkirakan harga minyak bisa mencapai US$ 100 per barel jika konflik meluas dan berdampak pada AS,” lanjutnya.

Eric mengatakan, kedua faktor tersebut membuat nilai tukar rupiah menjadi Rp16.000-16.300 terhadap dolar AS dalam beberapa hari terakhir dan nilai tukar tersebut bisa mencapai lebih dari Rp16.500 jika konflik geopolitik tidak mereda.

Eric memperkirakan situasi ekonomi dan geopolitik akan berdampak pada Indonesia melalui investasi asing yang akan melemahkan rupiah dan obligasi akan naik karena terganggunya neraca perdagangan Indonesia, ”lanjut Eric.

Oleh karena itu, Eric meminta BUMN bertindak cepat untuk mengurangi dampak global dengan meninjau biaya penganggaran modal, pertumbuhan utang, rencana aksi korporasi, dan melakukan stress test untuk melihat bagaimana kinerja BUMN dalam situasi saat ini.

Eric meminta bank-bank pemerintah mempertahankan porsi kredit yang dipengaruhi nilai tukar rupiah, suku bunga, dan harga minyak. Eric mengatakan, BUMN yang bergerak di bidang impor peralatan dan BUMN yang utang luar negerinya besar (dalam dolar AS) seperti Pertamina, PLN, BUMN Farmasi, MIND ID, sebaiknya memperbanyak pembelian dolar AS dalam jangka pendek.

Eric melanjutkan, “Melakukan kajian psikologis terhadap pembayaran pokok dan/atau bunga atas utang dan dolar yang akan berkembang dalam waktu dekat.”

Selain itu, lanjut Eric, pasar ekspor yang bergantung pada BUMN seperti pertambangan MIND ID dan tanaman PTPN dapat memanfaatkan peluang yang meningkat ini untuk mengurangi tergerusnya neraca perdagangan. Eric mengatakan, BUMN yang memiliki utang luar negeri atau berencana menerbitkan instrumen dolar AS sebaiknya mempertimbangkan opsi lindung nilai untuk mengurangi dampak fluktuasi nilai tukar.

Eric mengatakan, “Seluruh BUMN diharapkan waspada dan waspada dengan mengkaji situasi saat ini, dengan tetap memperhatikan kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.”

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Kementerian PUPR Kenalkan Konsep Perkantoran yang Humanis dan Ramah Lingkungan
Next post Indonesia Dapat Posisi 80 Besar Negara Paling Bahagia di Dunia, Segini Penilaiannya