Hari Diabetes Nasional 18 April, Bila Tak Terkontrol Berujung Komplikasi

Read Time:2 Minute, 14 Second

petbrowser.us, Jakarta Setiap tanggal 18 April diperingati sebagai Hari Diabetes Nasional yang diresmikan oleh Kementerian Kesehatan RI.

Tujuan Hari Diabetes Nasional adalah menyadarkan masyarakat untuk menjaga kesehatan agar terhindar dari penyakit diabetes.

FYI, Indonesia menduduki peringkat kelima dengan jumlah penderita diabetes melitus (DM) tertinggi di dunia.

Penyakit yang disebut juga silent killer dan mother of disease ini menimbulkan komplikasi dan menjadi penyebab kematian utama di Indonesia, seperti yang diungkapkan dokter spesialis penyakit dalam Cindia Clarissa Simanjuntek dari RSUD Temansari, Jakarta.

Jika seseorang mengidap diabetes yang tidak terkontrol, hal ini dapat menimbulkan komplikasi.

Mulai dari penyakit jantung koroner, penyakit ginjal kronis, kerusakan saraf, gangguan kesehatan mulut, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, gangguan pembuluh darah hingga gangguan jiwa, kata Scindia melalui pesan singkat yang diterima Health petbrowser.us. Faktor risiko diabetes tipe 2

Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini mengatakan, ada beberapa faktor risiko diabetes tipe 2, yaitu:

1. Berat badan

Populasi dengan massa tubuh berlebih (BMI) berisiko lebih tinggi terkena diabetes. BMI adalah indikator sederhana dengan membagi berat badan (dalam kilogram) dengan tinggi badan (dalam meter kuadrat). Untuk penduduk Asia, BMI >= 24 kg/m2 tergolong kelebihan berat badan.

2. Aktivitas fisik yang rendah

3. Konsumsi makanan

Tingginya konsumsi makanan cepat saji dan makanan/minuman tinggi gula dan pemanis meningkatkan risiko diabetes.

4. Riwayat keluarga

Studi menunjukkan bahwa keturunan penderita DM tipe 2 memiliki risiko 30-70% terkena DM tipe 2

5. Berat badan lahir rendah atau kelahiran prematur

Berat badan lahir rendah dan bayi lahir prematur memiliki risiko lebih tinggi terkena DM tipe 2.

6. Tidak menerapkan pola hidup sehat setiap hari.

Mengenali Tanda dan Gejala Diabetes: Gejala klasik penyakit DM adalah: cepat haus (polidipsia), sering buang air kecil (poliuria), dan cepat lapar (polifagia)/3P. Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan. penglihatan kabur. Luka yang tidak kunjung sembuh.

Untuk memastikan diagnosis DM, diperlukan pemeriksaan darah yang memenuhi kriteria berikut: kadar glukosa puasa >= 126 mg/dL HbA1c >= kadar glukosa darah 6,5% 2 jam setelah tes toleransi glukosa oral >= 200 mg/hari Untuk adanya gejala klasik DM disertai kadar glukosa darah >= 200mg/dl.

Satu ons pencegahan sama dengan satu pon pengobatan. Pengobatan dini lebih baik daripada terlambat, seperti kata Scindia.

Deteksi dan pengobatan dini akan mengurangi komplikasi, ujarnya.

PERKENI (Masyarakat Endokrin Indonesia) merekomendasikan populasi berikut untuk segera dilakukan pengujian:

1. Orang dengan indeks massa tubuh >= 23 kg/m2 disertai tidak aktif, orang tua DM, menderita hipertensi dan hiperkolesterolemia, obesitas, wanita dengan sindrom ovarium polikistik, riwayat penyakit jantung.

2. Orang yang berusia di atas 45 tahun dengan atau tanpa risiko tersebut.

3. Mereka yang berisiko tinggi dengan hasil tes glukosa plasma normal harus mengulanginya setiap 3 tahun. Mereka yang termasuk dalam kelompok pra-diabetes harus menjalani tes ulang setiap tahun.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Timnas Indonesia Latihan Perdana Jelang Lawan Vietnam, Ini yang Dikasih Shin Tae-yong
Next post Dua Hal Ini Efektif Cegah Tertular Flu Singapura